Sastra Terjemahan
Setelah ditemukannya sistem bercocok tanam dan irigasi manusia mulai berdomisili dan memiliki waktu untuk mengembangkan pikiran tentang Tuhan, teknologi (stone age tools), penampilan juga hubungan sosial (kejauhan ya mulainya). Berawal dari cerita lisan dan hipograf manusia (yang dianggap) cerdas saat itu mulai berkisah yang dikenal sebagai Zaman Prasejarah, hingga akhirnya menemukan metode tulisan sebagai salah satu media berketuhanan, sosial dan tanda memasuki Zaman Sejarah. Kisah-kisah yang berkembang saat itu tentu saja dalam beragam alur dan beragam bahasa, bergantung pada wilayah dan teritorialnya yang saat ini dikenal dengan istilah bangsa.
Bagaimana karya sastra dari suatu bangsa dapat dibaca dan dipahami oleh bangsa di belahan dunia lain yang mungkin memiliki perbedaan bahasa dan budaya? Hal tersebut dimungkinkan terjadi dengan adanya proses transliterasi atau penerjemahan. Ada beberapa karya sastra yang mengalami satu kali penerjemahan, penerjemahan yang marak dilakukan saat ini adalah penerjemahan dari Bahasa latin- Bahasa Inggris (Pentateuch, syair Beowulf), Bahasa Sanskrit - Bahasa Inggris (Mahabarata dan Ramayana), Bahasa Perancis - Bahasa Inggris (L’Assommoir, la Conquete de Plassans, Three Musketeers), Bahasa Rusia - Bahasa Inggris (The Mother dan City of the Yellow Devil), Bahasa Jerman – Bahasa Belanda (Anne Frank) dan Bahasa Inggris – Bahasa Indonesia (Oliver Twist, Chicken Soup).
Ada pula karya sastra yang mengalami beberapa kali penerjemahan dalam perjalanannya mengelilingi dunia, seperti Bahasa Perancis – Bahasa Inggris – Indonesia (Madam Bovary), Bahasa Rusia – Bahasa Inggris – Bahasa Indonesia (Anna Karenina), Bahasa Arab – Bahasa Inggris – Bahasa Indonesia (Perempuan di Titik Nol, Matinya Seorang Mantan Menteri).
Penerjemahan adalah ”Proses, cara, perbuatan menerjemahkan; pengalihbahasaan” (KBBI, 2008: 1510) dan menerjemahkan adalah “Menyalin (memindahkan) suatu bahasa ke bahasa lain” (KBBI, 2008: 1509). Menilik dari definisi tersebut, maka proses penerjemahan semestinya tidak berhenti pada penyusunan teks ke dalam bahasa lain. Tapi juga mengupayakan rasa dan budaya karya sastra tersebut tetap hadir meski dalam bahasa yang lain, atau secara umum disebut karya sastra terjemahan.
Sebenarnya penerjemahan atau karya sastra terjemahan tidak hanya ramai dilakukan pada karya sastra modern, hal ini juga dilakukan pada karya sastra klasik seperti Mahabarata, Ramayana, Iliad, Odyssey, Perjalanan ke Barat, Seribu Satu Malam, Pentateuch, Syair Oedipus, Syair Beowulf dan lain sebagainya.
Beragamnya bahasa yang digunakan dalam masing-masing karya di atas, membuat penerjemahan perlu dilakukan. Terlepas dari latar belakang, kepentingan dan tujuan penerjemahan yang berbeda-beda, hampir semua karya sastra di atas telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Peranan Bahasa Inggris sebagai Bahasa Internasional memungkinkan penerjemahan kembali karya sastra tersebut ke dalam bahasa-bahasa lain di seluruh dunia.
Seperti dikutip Pramesti, menurut pendapat Barnwell dalam Suryawinata (2003)
“[B]aik tidaknya atau tepat tidaknya hasil terjemahan tergantung pada tiga komponen yaitu accuracy, clarity, dan naturalness. Accuracy atau ketepatan artinya pemahaman pesan bahasa sumber yang tepat dan pengalih makna pesan setepat mungkin dalam bahasa sasaran. Clarity atau kejelasan artinya terdapat beberapa cara pengungkapan suatu gagasan dengan jelas. Naturalness atau kewajaran artinya hasil terjemahan itu efektif dan tingkat keberterimaannya tinggi. Terjemahan hendaknya tidak terasa kering atau terdengar ganjil. Penerjemah hendaknya berusaha keras untuk mendapatkan padanan yang sebaik mungkin dengan mempertimbangkan kriteria di atas.”
Oleh karena itu, sebenarnya pembaca sastra terjemahan bersandar pada kemampuan berbahasa penerjemah. Selain harus menguasai ragam bahasa, penerjemah juga harus mengetahui, memahami atau (mungkin) mengalami budaya asal dalam karya yang akan diterjemahkan. Sehingga, penerjemah dapat memilih (baik secara sadar pun tidak) mengenai penyajian budaya asal dalam karya sastra tersebut.
Penafsiran, kajian dan pemaknaan biasa terjadi dalam proses penerjemahan. Sehingga, tidak heran terjadi penafsiran, kajian dan pemaknaan ulang semisal dari karya epos Mahabarata, Ramayana, Iliad, Odyssey, Perjalanan ke Barat, Seribu Satu Malam, Pentateuch, Syair Oedipus, Syair Beowulf dan lain sebagainya dalam kemasan wacana baru. Bahkan, menimbulkan beragam varian dan versi yang diyakini menjadi milik juga identitas komunitas tertentu.
Meski karya sastra terjemahan saat ini sering dianak tirikan (dalam hal ini mengenai analisis akademis) tapi sebenarnya karya sastra terjemahan memiliki peranan penting dalam ekspansi karya sastra dunia, hingga dikenal sebagai sastra dunia seperti saat ini.
Dengan demikian, idealnya karya sastra terjemahan sebisa mungkin mempertahankan rasa, suasana dan budaya yang sama dengan karya asalnya, baik itu disesuaikan dengan budaya bahasa penerjemah pun bila tetap mempertahankan rasa, suasana dan budaya karya asalnya.
Penafsiran, Kajian dan Pemaknaan Ulang ; Refleksi Ideal Tokoh dan Alur
Kehidupan
Menilik penafsiran, kajian dan pemaknaan ulang yang terjadi dalam penerjemahan ternyata tetap ada pakem baik sadar pun tidak dipatuhi bersama: tetap memiliki alur kisah dan tokoh yang sama. Alur kisah yang dimaksud adalah berjuang menghadapi rintangan kemudian mendapatkan gelar, berakhir dengan kebahagiaan dan menjadi semacam refleksi ideal suatu tokoh dan alur kehidupan. Seperti penceritaan kembali tokoh-tokoh kerajaan yang dilakukan William Shakespeare dalam drama Macbeth, King Lear, Richard III, dan lainnya (pada Zaman Renaissans), bukan tidak mungkin hal tersebut juga terjadi dalam isi cerita naskah kuna (semisal) Angling Dharma yang diyakini sebagai naskah drama mutakhir di zamannya, lakon pewayangan, bahkan kini memiliki varian dan versi baru dalam novel-novel mutakhir Indonesia salah satunya novel “Anak Bajang Menggiring Angin” karya Sindhunata yang berlatar Ramayana. Hal ini menunjukan bahwa karya epos tersebut sulit untuk dikategorikan sebagai refleksi realitas sosial masyarakat pada zamannya.
Uniknya, alur cerita upaya dan perjuangan menghadapi rintangan tersebut karena adanya khaos dalam tatanan yang dalam cerita tersebut dapat dianggap sudah mapan; Pandawa Lima yang harus berperang melawan Kurawa padahal diceritakan sama-sama keturunan kerajaan dan masih memiliki hubungan kekerabatan; Rama, Shinta dan Laksmana yang harus mengasingkan diri dan berjuang melanjutkan hidup di hutan belantara padahal jelas-jelas diceritakan bahwa Rama adalah Putera Mahkota; Strategi perang dengan Kuda Trojan pada Iliad; Beowulf yang harus mengalahkan monster dalam balutan intrik; dan sebagainya.
Konflik dan
Solusi


hai...
BalasHapusmenarik tentang terjemahan dan aplikasinya dalam sastra. dengan adanya "terjemahan" bisa mempermudah pembaca dari semua kalangan menikmati bacaannya, terutama sastra. meskipun dampak dari kesalahan terjemah akan memberi persepsi berbeda, mungkin di sinilah resepsi sastra "dimaklumi", ya. tapi Wellek mengemukakan bahwa kondisi kesadaran individu bersifat momenter, personal, dan kolektif. Sebuah karya sastra, bahkan ketika muncul sebagai karya baru, tidak menunjukkan sebagai suatu karya yang benar-benar baru dalam sebuah kevakuman informasi, melainkan mempengaruhi audiensnya pada jenis peneriman yang sangat khusus melalui pemberitaan-pemberitaan, petunjuk-petunjuk yang jelas dan tertutup, karakteristik yang familiar, atau kiasan yang implisit. Kasus ideal dari kemampuan objektif kerangka historis sastra dari referensi ini adalah karya-karya yang melahirkan horison harapan pembaca, yang dibentuk oleh konvensi aliran, gaya, atau bentuk, hanya untuk merusak setahap demi setahap yang sama sekali tidak memberikan tujuan kritis, melainkan dengan sendirinya memberikan pengaruh kritis (Jauss, 1984)
Saya juga kebetulan sedang membaca buku Cawelti, dimana memang formulasi genre fiksi memang pola kehidupan manusia, dimana ketika meraih kemenangan/harapan harus melewati/menyelesaikan sebuah bahaya, tentu dengan resiko. Kebayang kan tanpa adanya formula semacam itu, fiksi2 yg bertebaran akan sangat tidak jelas certanya :)
Iya teteh, betul.
BalasHapusRasa bahasa penerjemahnya mesti mantep biar pembaca yang tidak bisa/kurang fasih bahasa asalnya tetap bisa menikmati :D
Nuhun kanggo info teori Caweltina nya teh :D
Halo mba... saya iseng googling nama anak saya M. Rayhan Candraditya Pramesti, dan ketemulah dengan blog Mba.... Dan saya lihat Mba mengutip tulisan PROSES PENERJEMAHAN PUISI dari Blog saya DOENIA DEVI http://doeniadevi.wordpress.com .... Tapi kok nama penulisnya jadi nama anak saya ya? Padahal yang nulis Artikel ini saya lho! Anak saya mah thn 2009 masih SD, ga mungkin bisa nulis kayak beginian.. :-D Mohon dikoreksi ya Mba. Makasih. Nama saya Kanya Varistha Devi, tapi di dunia publikasi, saya bisa dikenal dengan nama KANYA PUSPOKUSUMO. Saya mama-nya Rayhan. :-D :-D *anyway, terima kasih sudah mencantumnkan sumber tulisan*
BalasHapusoh, begitu...
BalasHapussaya sudah re-chek blog Mbak Kania Puspokusumo untuk mengoreksi kesalahan saya. Sesuai dengan laman Tentang Mbak di blog beberapa bulan lalu yang saya save, berbeda dengan keterangan Tentang Devi yang kini tersedia. Mungkin sudah diedit dan diberi keterangan lengkap, tidak seperti bulan Nopember lalu. Mohon maaf, karena memang pada bulan Nopember keterangan Mbak sebagai penulis yang saya baca di link tentang penulis blog hanya tertera nama M. Rayhan Candraditya Pramesti.
demikian ralat saya, terima kasih untuk perhatian Mbak yang telah menjadi rujukan saya :D
Sebelum diedit pun sebenarnya saya tidak pernah menuliskan nama anak saya sebagai penulis blog. Saya (sejak blog doenia devi di buat) selalu mencantumkan nama saya sebagai penulis blog, bahkan sebelumnya saya menuliskan nama dengan sangat lengkap R. A Kanya Varistha Devi Puspokusumo. Justru setelah diedit, saya hanya menuliskan nama Kanya dan Kanya Puspokusumo saja.
BalasHapusDan di blog tersebut, sejak dibuat pun selalu menyebutkan bahwa Rayhan Candraditya Pramesti adalah nama anak saya.
Anyway, ini mungkin masalah ketidaktelitian mba saja dalam membaca sumber. It's Ok. Saya cuma minta di rujukannya diperbaiki saja dengan nama penulis yang seharusnya.
Thanks. :-)