Minggu, 11 November 2012

Derogasi Tubuh dan Glorifikasi Bahasa



Derogasi Tubuh dan Dunia Materi 


Tak dapat disangkal bahwa penyampaian sebuah cerita (apa pun  bentuknya) selalu memiliki kepentingan di baliknya. Baik untuk mendominasi, mensugesti, menasihati atau  sekadar menghibur. Sejalan dengan perkembangan zaman tradisi bercerita pun muncul. Baik secara lisan sebagai pembuka upacara adat pun sebagai hiburan saat mengelilingi api unggun. 


Kepentingan yang mendasari penceritaan dibalut dalam kemasan menarik, sehingga orang yang mendengar, membaca dan menanggapi cerita tersebut (tidak merasa dipaksa untuk) memercayainya adalah hal yang lumrah.  Hal demikian sering disebut derogasi atau pengurangan nilai rasa terhadap tubuh dan dunia materi. Contohnya pada cerita Legenda Sangkuriang terdapat tokoh Tumang yang merupakan seekor Anjing Hitam dan Ibunya Dayang Sumbi yang diceritakan sebagai Babai Hutan berwarna putih. Hal ini, mungkin lekat dengan ajaran Hindu atau Budha karena babi bisa menjadi simbol kemakmuran, kesejateraan dan kekayaan. Penceritaannya mungkin digunakan untuk kepentingan agama Hindu, Budha atau bahkan Islam. Selain itu, ada pula Cerita Perjalanan ke Barat yang bertokoh; Sun Go Kong, kera; Cu Pat Kai, babi; Wu Jing, kerbau. Dalam cerita Ramayana pun terdapat Hanoman, kera putih yang terlahir sebagai penebus dosa Ibunya yang melakukan tapa.


 Ada pula cerita klasik Pangeran Kodok yang berubah menjadi Pangeran Manusia, Srigala yang akan memakan Si Gadis Berkerudung Merah, Manusia Serigala yang kini menjadi trend karena tetralogi novel Twillight, bahkan ada Medusa perempuan cantik berambut ular dan Angsa yang diceritakan sebagai ibu dari Helena Troya. Ada banyak latar belakang kepentingan sehingga hal semacam itu disampaikan. Penafsiran atas derogasi tersebut tidak bersifat kaku, bahkan kini banyak penafsiran dan interpretasi baru dalam bentuk media film misalnya (novel dan film Twillight dan film Red Hood Riding). 


Ada pula cerita yang menyiratkan dunia material, misalnya bahwa badan/ragawi tidak lebih berharga dari pada jiwa. sehingga dalam alur cerita digambarkan bahwa seseorang yang ingin mencapai moksa harus merelakan harta bahkan raganya (dalam istilah kosmologi Sunda: Ngahyang). Contohnya dalam cerita Raja Oedipus yang harus merelakan matanya untuk dibutakan sebagai penebusan dosa dan Dewi Sri (Nyai Pohaci) yang harus merelakan badannya yang kemudian tumbuh menjadi panganan utama (beras) dan tumbuhan lainnya yang bermanfaat bagi manusia.

 Glorifikasi Bahasa 


Selain menggunakan derogasi tubuh dan dunia material, penggunaan bahasa-bahasa asing dalam sebuah cerita kadang menjadi suatu cara melegitimasi kekuasaan atau rasa penghormatan. Hal demikian dikenal dengan istilah glorifikasi atau pemuliaan bahasa dan teks. Misalnya pada penggunaan kata; khitan, sunat; khilaf, lupa/salah; mahar, mas kawin; nikah, kawin;khilal, bulan baru; hajat/ acara/ kenduri/perhelatan/ pesta/ resepsi/ selamatan/ walimah/ cinta. Selain itu, banyak pula cerita-cerita yang disisipi istilah Bahasa Sanskrit, Bahasa Arab, Bahasa India, Bahasa Belanda, Bahasa Inggris yang kini terlihat sisa-sisanya pada kata serapan bahasa asing yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar